Semester Pendek 2021

Festival Film Mahasiswa

header-web

Tahun ini KOLEKTIF kembali menyelenggarakan SEMESTER PENDEK, kompetisi film pendek mahasiswa. Selain kompetisi film pendek, akan diadakan juga berbagai sesi diskusi dan pemutaran film non-kompetisi.S Semester Pendek juga berperan sebagai ruang untuk mempertemukan mahasiswa pembuat film dengan penonton dan sineas lain di industri.

Pendaftaran Semester Pendek 2021 telah dibuka sampai 21 Juli 2021 pukul 23.59 WIB melalui link bit.ly/SubmitFilmSP.

Syarat dan Ketentuan:

  1. 1. Pembuat film mahasiswa aktif / lulusan 2021
  2. 2. Film pendek produksi tahun 2019-2021
  3. 3. Durasi film maksimal 20 menit

Informasi lebih lanjut seputar pendaftaran kompetisi klik bit.ly/SyaratKetentuanSP

"Akselerasi"

Festival ini ditujukan untuk mahasiswa dengan konten-konten beragam yang menunjukan kebebasan berekspresi sebagai sineas pemula sekaligus aplikasi pengetahuan awal dalam menjajaki dunia film. Tema yang diangkat AKSELERASI diharapkan bisa menjadi ruang percepatan berbasis teknologi baik dalam kampus-kampus, maupun ruang bagi komunitas di berbagai wilayah. Festival film juga menjadi ruang penting bagi pembelajaran bagi semua pihak, menampilkan eksplorasi kebebasan dengan penuh kesegaran. Lewat festival ini juga diharapkan bisa menjadi lini yang berkelanjutan tanpa terbatas ketika kondisi saat ini yang serba tidak menentu bagi semua masyarakat pelaku film terutama mahasiswa. Percepatan ini diharapkan juga jadi ruang pertemuan bagi mahasiswa untuk lebih produktif di wilayah jejaring kota-kota yang sudah terbentuk komunitasnya, terutama bisa menjangkau di pulau Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Ambon dan lain sebagainya.

Kompetisi Film Pendek Mahasiswa

Sebagai festival film yang didedikasikan untuk mahasiswa, program kompetisi menjadi program utama. Sebagai jangkar kegiatan yang juga menjadi tolak ukur bagi dua sisi, pembuat film mahasiswa dan juga penyelenggara kegiatan festival. Lewat program kompetisi ini, diharapkan bisa menjaring bakat-bakat baru yang segar, kemunculan ide serta wacana yang bebas, dan menjadi parameter kreativitas serta perkembangan produktivitas sineas mahasiswa di Indonesia. Para pemenang pilihan juri diharapkan juga memiliki karier panjang untuk terus berkembang dan bertahan di ekosistem film, meskipun lepas dari status pembuat film mahasiswa.

Pemutaran Film Non Kompetisi Tengok Tetangga: Our Neighbor Next Door

Dikurasi oleh programmer tamu Bebbra Mailin dan Yow Chong Lee

Siapa tetangga terdekat yang ada di teritori regional Asia Tenggara? Tak ada salahnya mengetuk pintu dan kemudian membuka topik diskusi seputar isu terkini atau sekadar menonton film produksi tetangga sebelah. Sebagai rumpun Asia Tenggara, tak jarang menemukan perbedaan dan juga persamaan. Bagaimana ketika ditampilkan dalam layar? Apakah akan muncul perbedaan atau persamaan? Apa saja yang mempengaruhi proses kreatif dari hasil film-film mahasiswa? Tengok Tetangga diharapkan bisa menjadi tempat bertemu dan berkumpul dari sesama negara tetangga untuk tetap terhubung lewat film dan obrolan hangat.

Pemutaran Film Non Kompetisi: Class of 2020

Tahun yang berat untuk semua orang tak terkecuali para mahasiswa yang juga membuat film di tahun 2020. Sebagian dari mereka merekam pandemi yang mempengaruhi produktivitas, kreativitas sampai kesehatan mental. Sebagian dari mereka mendapat kesempatan masuk ke beberapa perhelatan bergengsi di tengah pandemi. Film-flm yang hadir di tahun 2020 ini perlu menjadi sorotan dan mendapat apresiasi lebih. Sederet film yang diproduksi tahun 2020 menjadi program khusus untuk mengapresiasi mereka di angkatan 2020.

Diskusi: Out of Comfort Zone

Narasumber Edwin, Yosep Anggi Noen dan Koji Fukada

Membuat cerita untuk film tidak bisa lepas dari latar cerita dan juga lokasi yang akan dipakai saat produksi. Signifikansi lokasi terhadap cerita juga menunjang bagaimana penceritaan akan sampai ke penonton. Lalu bagaimana mengambil latar di tempat yang bukan ‘rumah’ sendiri? Bisakah menambah esensi penceritaan itu sendiri. Lalu terkait teknis syuting, kendala bahasa atau perbedaan budaya, bisakah semua itu diterabas demi mendapat konteks yang sesuai?
Diskusi Out of Comfort Zone ini hadir di Semester Pendek untuk mengeksplorasi tentangi bagaimana proses pembuatan film yang dilakukan diluar zona nyaman para filmmaker. Sebagai filmmaker, terutama filmmaker Mahasiswa, melakukan eksperimen dan percobaan dalam membuat film adalah sesuatu yang harus dan wajib dilakukan, salah satunya adalah berani keluar dari zona nyaman. Meskipun banyak ketidak pastian yang mungkin dihadapi, tapi kalau kita tidak pernah berani mengambil resiko maka selamanya kota hanya akan berhenti di satu tempat tanpa adanya perubahan yang berarti. Koji Fukada, Edwin, dan Yosep Anggi Noen, 3 sutradara dengan latar belakang negara dan budaya yang berbeda akan berbagi cerita pengalaman mereka syuting di negara tetangga. Bagaimana sulit tapi menyenangkannya bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa syuting keluar dari zona nyaman dan dalam konteks ini memproduksi film di negara orang lain.

Diskusi: Error 404: Not Found!

Narasumber: Putri Sarah Amelia dan Tunggul Banjaransari

Ketika sedang berada di umur prima dan pemikiran ideal yang sangat membuncah, tidak salah memang kalau Mahasiswa selalu memiliki peran penting dalam sejarah di berbagai negara. Apalagi filmmaker Mahasiswa, dengan ide-ide yang menarik dan selalu ingin mencoba hal baru membuat film mereka memiliki warna tersendiri. Selain memiliki ide-ide yang cemerlang, namanya manusia harus ada tantangannya dalam hidup untuk bisa naik ke level yang lebih tinggi, ada beberapa tantangan yang bisa menggagalkan proses produksi film. Apa aja sih tantangan yang biasa dihadapi? Kenapa itu bisa terjadi? Diskusi ini hadir sebagai tempat untuk berdiskusi bagaimana bisa menghadapi tantangan tersebut.

Film Pemenang Kompetisi
Semester Pendek 2020 Pilihan Juri

Still-Photo-1_Fitrah

Fitrah

Karya Sutradara Yulinda Dwi Andriyani

STILL-FOTO2_RUMAH-DI-BELAKANG-RUMAH

Rumah di Belakang Rumah

Karya Sutradara Indra Hermawan

Still-Photo_Maria-Adoe-2

Maria Ado E

Karya Sutradara Gleinda Stevany

Film Pemenang Audience Award
Semester Pendek 2020

2.-Still-Deux

Deux

Karya Sutradara David Leonardo

Daftar Film Finalis Kompetisi
Semester Pendek 2020

Ambek karya Wani Sarah. Apresiasi Beradaptasi karya Lescha Noveeta Caesaryana. Buah Agung karya Giaruri Swaramardika. Bujang Bailau karya Dwi Yola Nevia Putri. Curiga karya M. Fitra Alfaridzi. Fast Train karya Ahmad Fajar. Firasat karya Aiden Kueh Ze Yang. Gendis karya Jein Oktaviany (Arif Faturahman). HER karya Della Olimdo. Kepala Semangka karya Egi Gerhanandi. Klinik Nenek karya Sonya Anggi Yani. Live karya Ruziqu Tajri. Masih Ada Natal Tahun Ini karya Raihan Pratama Mauladi. Pernak: Opini Batas Kandang karya Nathaniel Hamonangan. Putri? karya M. Rizal Hanun. Seribu Kunang-Kunang di Jakarta karya Anindya Ervian Madalina. Suara Dari Kehilangan karya Magung Budiman. Unreality karya Kevin Rahardjo.

Profil Juri

Cika_small

Fransiska Prihadi

Fransiska Prihadi adalah seorang arsitek, di tahun 2019 mendirikan MASH Denpasar bersama Edo Wulia dengan fasilitas art-house cinema, pop-up store dan artist-residency. Mengawali perjalanan bersama Minikino sejak tahun 2012 dan pada tahun 2013 mulai terlibat dalam kerja organisasinya sebagai project coordinator My Life My Dreams: Jönköping-Denpasar. Sejak 2015 merupakan Direktur Program Minikino dan Minikino Film Week, Bali International Short Film Festival. Pengalaman sebagai programmer film pendek diawali untuk Minikino Monthly Screening tahun 2015 dan bagian dari tim programming S-Express Indonesia. Sejak tahun 2015 juga merupakan koordinator program pertukaran program film pendek di Indonesia yang diinisiasi oleh Minikino: Indonesia Raja.

Pengalaman menjadi juri mewakili Minikino dalam berbagai sirkuit festival film pendek di dalam negeri di antaranya juri kompetisi film pendek dokumenter pelajar di Festival Film Dokumenter 2019 (Yogyakarta), Mid Summer Film Festival 2020 (HMJTVF ISI Denpasar), kurator film pendek cerita Festival Film Indonesia (2019-2020). Di sirkuit film festival mancanegara, pengalaman menjadi juri antara lain di ReelOzInd! (2017-2020), 22nd Thai Short Film & Video Festival (2018), East Asian Experimental Film Competition Image Forum Festival (2019), dan Toronto Reel Asian International Film Festival – Reel Asian 24 Short Film Competition (2020).

Foto-Ifan-Ismail

Ifan Ismail

Ifan Ismail baru sadar bahwa dia telah menyukai film sejak kecil, justru di bangku kuliah. Lewat kegiatannya di unit mahasiswa Liga Film Mahasiswa (LFM) di ITB, ia terbenam dalam dunia film dan menjajal banyak lini. Pertama, tercebur di produksi film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) sebagai tukang angkut dan pemotong bawang. Setelah itu terjun ke televisi dan perfilman sebagai penulis skenario. Mulai dari acara komedi Extravaganza hingga ke film Habibie & Ainun dan Sultan Agung. Profesi ini sempat membawanya mengikuti residensi ASEAN in Residence yang diadakan Kementerian Kebudayaan Thailand dan Kyoto Filmmakers Lab di Kyoto. Keduanya di tahun 2014.

Tercebur di kolam yang lain lagi sejak 2017, menjabat sebagai Koordinator Program kineforum, sebuah program dan ruang putar alternatif di bawah Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Hingga saat ini masih mengelola program kineforum dan menulis skenario.

Kemal-Putra-Foto

Kemal Putra

Kemal Putra telah aktif dalam kegiatan eksibisi film sejak 2012. Komunitas eksibisi film yang ia gagas bersama rekan-rekannya, Kinotika, berbasis di Makassar aktif memutar dan melakukan diskusi untuk film-film independen--baik film panjang, maupun film pendek--salah satunya melalui program Weekend Kino Club. Kinotika juga kerap bekerjasama dengan organisasi nirlaba lainnya sebagai local partner untuk beberapa festival film, seperti Japanese Film Festival, German Cinema, One Shot Film Project, dan Festival Sinema Prancis. Ia sendiri Pernah terlibat sebagai co-programmer untuk Makassar International Writers Festival dan SEAScreen Academy. Ia juga pernah aktif menulis kritik film. Beberapa tulisannya bisa dibaca di media lokal seperti Revius.id, Locita.co.

Foto-Ridla

Ridla An-Nur

Produser muda yang memiliki minat dalam bisnis. Ridla memulai karirnya sebagai publisis film dan menjadi co-produser untuk FIlosofi Kopi The Movie, Ziarah, Bukaan 8, dan Wonderful Life. Pada tahun 2017 Ridla dan rekannya, membangun rumah produksi: GoodWork, yang berfokus pada produksi, distribusi dan promosi. Film panjang pertamanya sebagai produser: Doremi & You (2019) yang disutradarai oleh BW Purbanegara.